Wednesday, May 2, 2007

Sopir Angkot

Gue mungkin bukan contoh orang baik-baik, tapi juga bukan orang jahat (belum…?).
Tapi setidaknya gue sudah mencoba dan memang susah sekali jadi orang baik. Yang berhasil gue pelajari dari berusaha menjadi orang baik-baik adalah menghormati orang-orang yang mencari nafkah dengan jujur. Yes… I respect people from all walks of life who make an honest living.
Dari pejabat negara, polisi, tentara, pegawai pemda yang ga mau terima suap, tanda terima kasih, uang kadeudeuh teu puguh. Ga ikut-ikutan KKN ngajak saudara-saudara sebangsa sekampuang nan jauh di mato atau teman sejawat dapat kemudahan menang tender, proyek pengadaan barang yang menerabas jalur resmi yang mengharuskan persaingan yang adil. Sampai ke level grass root kaya penyapu jalan, pedagang di pasar induk yang uda kerja jam 3 pagi, buruh tani yang ga punya sawah, guru-guru honorer, tenaga kesehatan yang ga diangkat-angkat jadi PNS (apalagi di daerah terpencil), sampe pedagang kaki lima yang diuber-uber terus sama satpol PP padahal tiap hari bayar retribusi juga.
Klo penjahat kaya koruptor, pembunuh, pemerkosa, yang mangkir bayar L/C terus kabur ke singapura, pencuri, pemeras uang orang lain yang udah capek-capek kerja yang halal ga bakal dibahas lagi karena sudah jelas mereka-mereka itu beli tiketnya kemana klo ntar
sudah mati.
Tapi bagaimana dengan sopir angkot? Bapak-bapak itu mencari nafkah dengan jujur lho. Saya yakin itu. Tapi klo lg narik, kelakuannya di jalan bikin pengguna jalan yang lain jadi ikut-ikutan bikin dosa tiap hari. Ngetem di tengah jalan, klakson yang bunyinya NGOOOK…! NGOOOK…! Bikin tuli yang naik motor di depan BEGOOO…!Tiba-tiba minggir ga pake lampu sein, ngebanting lg! Klo mau ngitung di bandung aja tiap hari berapa penghuni kebon binatang disebut-sebut namanya. Belum lagi canine, pigs dan vocabs genitalia dan aktivitas-aktivitas yang berhubungan.
Nah gue kadang-kadang naik angkot jg klo motor lg abis bensin, lg ujan ato tangannya retak abis kena hit stick di lapang. Terus ngeliatin kelakuannya sopir angkot suka ngebatin, “Wah gue dulu pernah diserempet angkot waktu lg di simpang! Sopirnya ga mirip sih mukanya tapi kelakuannya sama aja. Damn!”
The moral of this story is…If any of you sopir angkot gets a chance to read my post, which I believe no one ever will, please behave a little bit more while you’re driving.
I’m not asking you to quit the job and become a criminal. We already have plenty of scumbags in this country. Thank you.
Detail : a contribution from theimmortalbird@yahoo.com, a member of Sahabat Kita, May 1st 2007

Disclaimer
All materials expressed here is of personal opinion from each individuals contributing for Sahabat Kita blog at http://outoftheboxmind.blogspot.com. And do not reflect the overall opinion of Sahabat Kita.

No comments: